Segala puji bagi Allah, Rabb Pencipta, Penguasa, Penjaga dan Pemelihara
Semesta Alam, sehingga hanya Dia-lah yang patut diibadahi dan jauh
dari syirik kepada-Nya. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad
Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, keluarga, para sahabat Radliallahu
Anha dan orang-orang Rahimahumullah yang mengikuti mereka dengan
baik hinga akhir zaman.
Krisis demi krisis, musibah demi musibah
datang silih berganti menguji keimanan kaum muslimin Indonesia Raya.
Belum terlupakan krisis ekonomi, datang berikutnya gelombang Tsunami
Aceh, gempa jogja-tasikmalaya-padang, kemudian banjir datang
menenggelamkan beberapa daerah, Wasior, gempa dan tsunami mentawai dan
berbagai musibah yang datang tiada hentinya silih berganti menghantam
kaum muslimin di Indonesia dan yang terakhir hingga saat ini merapi yang
terus erupsi.
Kejadian-kejadian dan musibah seperti ini, dan lainnya terkadang membuat kepala pusing tujuh keliling dalam mencari solusinya. Solusi
yang paling utama –setelah seluruh lapisan masyarakat mengoreksi diri,
dan bertaubat untuk kembali kepada Islam yang benar (tauhid dan
sunnah)-, Allah tawarkan, yaitu ber-infaq dan ber-shadaqah.
Oleh karena itu, Allah banyak
menganjurkan shadaqah di dalam Al-Qur’an, karena ia merupakan solusi
jitu dalam mengatasi musibah dan krisis sebagaimana hal ini telah
dipraktekkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , dan para
sahabat. Allah -Ta’ala- berfirman dalam menuntun kaum muslimin untuk
mengeluarkan shadaqah,

” Bukanlah menghadapkan wajahmu ke
arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya
kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang
dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang
meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan
menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan
dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan
mereka itulah orang-orang yang bertakwa. “ (QS. Al-Baqarah 2:177)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

” Dan jika (orang yang berhutang itu)
dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan
menyedekahkan (sebagian atau semua utang) tiu, lebih baik bagimu, jika
kamu mengetahui. “ (QS. Al-Baqarah 2:280)
Menafkahkan Harta yang di Cintai
Diantara sifat seorang mukmin yang
terdapat pada ayat-ayat al-qur’an yaitu menafkahkan harta yang
dicintainya, sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

” (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. “ (QS. Al-Anfaal 8:3)
Yakni, rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka lalu mereka mengeluarkannya.
Para ulama berbeda pendapat tentang maksud “menafkahkan” disini, yaitu sebagai berikut:
1. Ada yang mengatakan, yang dimaksud dengan “nafkah” yang dikeluarkan itu adalah zakat wajib.
2. Ada yang mengatakan, yang dimaksud dengan “nafkah” tersebut adalah sedekah tathawu’ atau sukarela.
3. Ada yang mengatakan
bahwa hal tersebut adalah hak-hak yang ada dalam harta selain zakat,
karena Allah subhanahu wa ta’ala ketika menyebutkannya, berbarengan
dengan shalat, maka nafkah tersebut menjadi wajib, dan ketika tidak
disebutkan berbarengan dengan shalat maka yang fardhu hanya shalat,
sedangkan nafkah tersebut tidak fardhu.
4. Ada pula yang
mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “nafkah” tersebut adalah nafkah
dalam makna umum, dan inilah pendapat yang paling dekat dengan
kebenaran, karena infak tersebut menempati posisi “terpuji” jika
dilakukan sebagian harta yang diberikannya kepada mereka dan infak
hanya dapat dilakukan dari rezeki yang halal. Maksud ayat tersebut
adalah, “Mereka mengeluarkan sesuatu yang telah ditetapkan oleh
syari’at berupa zakat atau yang lainnya, yang terkadang muncul pada
beberapa keadaan, dan mereka dianjurkan untuk melakukan semua itu”
[Al-Jami' (1/125) oleh Al-Imam Qurthubi dan Tafsir Al-Qur'an al-Azhim
(1/42) oleh Al-Imam Ibnu Katsir]
Dahulu, ada pepatah yang sering diucapkan: “tidak berhak dilahirkan orang yang hidup hanya untuk kepentingan dirinya sendiri”
Tentunya seorang mukmin tidak bisa hidup
tanpa kerabat dekat (famili/keluarga), para tetangga, dan teman
sejawat, dan tentu disana ada orang yang kaya dan yang muskin, yang
kuat dan yang lemah, yang berkecukupan dan yang kekurangan.
Seorang mukmin akan selalu berpacu
memberikan sedekah kepada setiap orang yang membutuhkannya, baik yang
dekat maupun yang jauh, yang dikenal maupun yang tidak dikenalnya.
Sedekah yang kita berikan tidak terbatas,
baik kecil atau besar, karena maksud dari sedekah adalah memberi
bantuan kepada orang yang membutuhkan dan mengeluarkan diri dari sikap
pelit.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي
شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ هِشَامٍ عَنْ
مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِي يَوْمٍ حَارٍّ
يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنْ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ
بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا
” Telah menceritakan kepada kami Abu
Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar
dari Hisyam dari Muhammad dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bahwa di suatu
hari yang sangat panas seorang wanita pelacur melihat seekor anjing,
anjing tersebut mengelilingi sebuah sumur sambil menjulurkan lidahnya
karena kehausan, maka kemudian wanita tersebut mencopot sepatunya dan
memberi minum anjing tersebut. Allah pun kemudian mengampuni dosa-dosa
pelacur itu. ” (HR. Muslim | Kitab: Salam | No: 4163)
Perhatikanlah, bagaimana sedekah yang
jumlahnya sedikit telah menjadikan rahmat dan maghfirah (ampunan) Allah
tercurah kepada wanita tunasusila tersebut, bahkan kalimat thayyibah
(kata-kata yang baik) yang keluar dari mulut Anda akan dicatat disisi
Allah sebagai rangkaian sedekah yang anda telah lakukan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا
عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ خَيْثَمَةَ عَنْ عَدِيِّ بْنِ
حَاتِمٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَا مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ
وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا
مَا قَدَّمَ مِنْ عَمَلِهِ وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا
مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ
تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ قَالَ
الْأَعْمَشُ وَحَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ عَنْ خَيْثَمَةَ مِثْلَهُ
وَزَادَ فِيهِ وَلَوْ بِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
” Telah menceritakan kepada kami ‘Ali
bin Hujr telah memberitakan kepada kami ‘Isa bin Yunus dari Al A’masy
dari Khaitsamah dari ‘Adi bin Hatim berkata, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda: Tidaklah
salah seorang di antara kalian melainkan akan diajak bicara oleh
tuhannya dengan tanpa juru penerjemah, saat ia melihat sebelah kanannya
maka ia tidak melihat selain amalnya yang pernah dilakukan, saat ia
melihat sebelah kirinya maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah ia
lakukan sebelumnya, dan saat ia lihat depannya maka melihat selain
neraka di depan mukanya. Maka jagalah kalian dari neraka walau hanya
dengan separoh biji kurma. Al A’masy mengatakan, Dan telah
menceritakan kepadaku ‘Amru bin Murrah dari Khaitsamah semisalnya, dan
ia tambahi dengan redaksi, ‘Walaupun hanya dengan kata-kata yang baik’. ” (HR. Bukhari | Kitab: Tauhid | No: 6958)
Semua ini mengajak kita untuk menjadi
orang yang dermawan. Maka janganlah Anda pelit terhadap orang lain,
meskipun hanya dengan memberi sepotong pakaian, sesuap makanan, atau
seteguk minuman.
Maka, mari kita memperhatikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“ Setiap muslim bersedekah. “
Para shahabat bertanya, ‘wahai Rasulullah, bagaimana jika tidak mampu?’, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Bekerjalah dengan tangan sendiri sehingga bermanfaat bagi dirinya, lalu ia bersedekah.’
Para shahabat bertanya, ‘Bagaimana jika tidak mampu?’, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Menolong orang yang mempunyai kebutuhan dan yang sedang susah.’
Para shahabat bertanya lagi, ‘Bagaimana jika dia tidak dapat melakukannya?’, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Memerintahkan berbuat baik atau berbuat makruf.’
Para shahabat bertanya lagi, ‘Jika dia tidak dapat melakukannya?’, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Menahan diri dari berbuat buruk, maka hal itu merupakan sedekah bagi dirinya.’ (HR. Bukhari dan Muslim)
Diantara contoh indah yang diteladankan
orang-orang terdahulu kepada kita dalam berinfak adalah seperti
tertulis dalam kisah berikut;
Abu Thalhah Al-Anshari Radhiyallahu
‘anhu, adalah orang Anshar di Madinah yang tergolong paling banyak
hartanya, dan harta yang paling dicintainya adalah Bairuha (Nama tempat
di Madinah, sejenis kebun), yang letaknya berhadapan dengan Masjid
Nabawi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukinya dan
pernah meminum airnya yang segar. Setelah ayat berikut ini turun,

“ Kamu sekali-kali tidak akan sampai
kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian
harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka
sesungguhnya Allah mengetahuinya. ” (Ali ‘Imraan 3:92)
Kemudian, Abu Thalhah pergi menuju tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata
“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala
telah berfirman dalam Kalam-Nya, “Kamu belum menafkahkan sebagian harta
yang kamu cintai,..” (Ali ‘Imraan: 92) dan diantara harta saya yang
saya cintai adalah Bairuha, maka ia akan saya jadikan sedekah bagi
Allah Ta’ala. Saya mengharapkan semoga ia akan menjadikan kebajikan dan
amalan saya disisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka, ia kuserahkan
kepada engkau (yaa, Rasulullah) dan terserah kepada siapa ia akan
engkau berikan!”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Itulah keberuntungan, itulah keberuntungan, itulah
keberuntungan. Dan aku telah mendengar apa yang telah engkau katakan.
Itu lebih baik engkau sedekahkan kepada keluarga terdekat(mu)” (HR.
Bukhari dan Muslim). Lalu, Bairuha dibagi-bagikan kepada kerabat dekat
Abu Thalhah dan kepada anak-anak pamannya.
Wahai saudara seaqidahku, jika Anda
memiliki sifat-sifat terpuji yang telah disebutkan diatas, maka anda
adalah seorang mukmin yang sejati sebagaimana disebutkan dalam
firman-Nya,

“ Itulah orang-orang mukmin yang
sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di
sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia ” (Al-Anfaal 8:4)
Karena shadaqah dan infaq merupakan solusi jitu,
maka dalam risalah ini perlu dibawakan beberapa dalil yang menunjukkan
keutamaan dan pentingnya shadaqah agar orang-orang yang memiliki
kelebihan harta bisa tergerak hatinya untuk bersedekah dan berinfaq,
entah kepada tetangga, fakir-miskin, masjid, sekolah, majelis ta’lim,
majalah, buletin, dan amalan-amalan kebaikan lainnya.
DI ANTARA KEUTAMAAN SHADAQAH :
Mendapatkan Pahala yang Berlipat Ganda
Yang mana dengan shadaqah tersebut Allah
-Subhanahu wa Ta’ala- memuliakan kaum muslimin, menyucikan harta
mereka, serta memberikan ganjaran bagi mereka dengan ganjaran yang
berlipat ganda dan menuliskannya disisi-Nya sebagai kebaikan yang
sempurna. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

“ Siapakah yang mau memberi pinjaman
kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah),
maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat
ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan
kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah 2:245)
Tanda Ketaqwaan
Shadaqah adalah tanda dan ciri ketaqwaan seorang muslim.Allah -Ta’ala- berfirman,

“ Kitab (Al Quran) Ini tidak ada
keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,. (yaitu) mereka
yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan
sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka “. (QS. Al Baqarah 2: 2-3)
Shodaqoh Bekal Menujur Akhirat
Akan tiba masa yang tidak ada lagi jual
beli, dan tidak bermanfaat persahabatan. Oleh karena itu, sebelum tiba
masa itu hendaknya seseorang mempersiapkan perbekalan yang bisa
membantunya yaitu dengan banyak-banyak bershadaqah. Allah Ta’ala
berfirman:

“ Hai orang-orang yang beriman,
belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang Telah kami
berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi
jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. dan orang-orang kafir Itulah
orang-orang yang zalim “. (QS. Al Baqarah 2:254)
Al-Allamah Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata,
“Ini merupakan kelembutan Allah terhadap
para hamba-Nya, karena Allah memerintahkan mereka untuk mempersembahkan
sesuatu yang Allah berikan kepada mereka, berupa shadaqah wajib
(zakat), dan shadaqah mustahab (tidak wajib) agar hal itu menjadi
tabungan, dan pahala yang banyak bagi mereka pada hari orang-orang yang
beramal butuh kepada setitik kebaikan; tak ada lagi perniagaan di hari
itu. Andai seorang menebus dirinya dengan emas sepenuh bumi dari
siksaan pada hari kiamat, maka tak akan diterima darinya; tak akan
bermamfaat baginya seorang kekasih, dan sahabat, baik itu karena
kedudukannya atau syafa’atnya. Itulah hari yang merugi para pelaku
kebatilan di dalamnya, dan akan terjadi kehinaan bagi orang-orang yang
zhalim”.
[Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 110)]
Shodaqoh Adalah Perisai Dari Api Neraka
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
لِيَتَّقِ أَحَدُكُمْ وَجْهَهُ النَّارَ وَلَوْبِشِقِّ تَمْرَةٍ
“Handaknya salah seorang diantara kalian
melindungi wajahnya dari neraka, sekalipun dengan sebelah biji korma”.
[HR. Ahmad. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih
At-Targhib (864)]
Shodaqoh Penghapus Kesalahan
Setiap anak cucu adam tidak lepas dari
kesalahan, namun Allah yang Maha pemurah telah memberikan suatu sebab
yang dengannya bisa menghapuskan kesalahan-kesalahan dari anak cucu
adam dan sebab tersebut adalah dengan bershadaqah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ المَاءُ النَّارَ
“Shadaqah itu memadamkan (menghapuskan)
kesalahan sebagaimana air memadamkan api” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad
(3/321), dan Abu Ya’laa. Lihat Shohih At-Targhib (1/519)]
Shodaqoh Pelindung Di Padang Mahsyar
Ketika manusia menanti keputusan di
padang mahsyar dan sibuk dengan urusan masing-masing. Manusia pada saat
itu tidak peduli lagi dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka.
Matahari didekatkan dengan jarak satu mil, pada saat itulah seseorang
sangat membutuhkan pahala shadaqah yang bisa menaungi mereka.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
كُلُّ امْرِئٍ فِيْ ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ
“Setiap orang berada dalam naungan
shadaqahnya hingga diputuskan perkara di antara manusia“. [HR. Ahmad,
Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Hadits ini shohih
sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih
At-Targhib wa At-Tarhib (872)]
Shodaqoh Pemadam Panas Di Alam Kubur
Tentunya seorang mukmin apabila dia mati
maka dia mendambakan kuburnya adalah termasuk taman di antara
taman-taman surga dan jauh dari panasnya api neraka. Rasulullah yang
sangat sayang kepada umatnya telah memberikan tuntunan yang bisa
menyelamatkan umatnya dari panasnya api neraka yaitu bershadaqah.
Beliau bersabda :
إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ عَنْ أَهْلِهَا حَرَّ القُبُوْرِ
“Sesungguhnya shadaqah akan memadamkan
panasnya kubur bagi pemilik shadaqah”. [HR. Ath-Thobroniy dalam
Al-Kabir, dan Al-Baihaqiy. Syaikh Al-Albaniy meng-hasan-kan hadits ini
dalam Ash-Shohihah (3484)]
Shodaqoh Pemadam Panas Di Alam Kubur
Sungguh suatu kemuliaan tersendiri bila
seseorang dido’akan oleh makhluk yang dekat dengan Allah yaitu para
malaikat, tentu do’a tersebut adalah do’a yang mustajab. Maka dengan
bershadaqahlah bisa menjadi sebab seseorang dido’akan oleh para
malaikat. Rasululullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العَبْدُ فِيْهِ
إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ
مُنْفِقًا خَلَفًا وَ يَقُوْلُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا
تَلَفًا
“Tak ada suatu hari pun seorang hamba
berada di dalamnya, kecuali ada dua orang malaikat akan turun; seorang
diantaranya berdo’a, “Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang
berinfaq”. Yang lainnya berdo’a, “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi
orang yang menahan infaq”.”. [HR. Al-Bukhoriy dan Muslim ]
7 Golongan yang di Naungi
Padang Mahsyar merupakan tempat
pengadilan. Allah akan mengadili dan memutuskan segala urusan dan
perkara setiap hamba-hamba-Nya, baik itu berkaitan dengan hak Rabb-nya,
orang lain, ataupun dirinya sendiri. Hari itu merupakan hari yang amat
mengerikan dan menakutkan sehingga semua makhluk tunduk dan pasrah
kepada Sang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, Allah Rabb alam semesta.

“ Pada hari, ketika ruh dan para
malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa
yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia
mengucapkan kata yang benar ”.(QS.An-Naba’ 78:38)

“ Dan (pada hari itu) kamu lihat
tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku
catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang
telah kamu kerjakan ”. (QS. Al-Jatsiyah 45:28)
Belum lagi matahari didekatkan dengan
sedekat-dekatnya. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, Ketika
itulah para hamba menunggu dan mengharapkan perlindungan dan naungan
dari Rabb-nya. Diantara golongan yang mendapatkan naungan saat itu,
orang yang ikhlas bershodaqoh. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-
bersabda,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ
يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ العَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ
بِِعِبَادَةِ اللهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِيْ المَسَاجِدِ
وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِيْ اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا
عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ
إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى
لَا تَعْلَمُ يَمِيْنُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ
خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh
Allah pada hari kiamat yang mana tidak ada naungan selain naungan
Allah…. seseorang yang bershadaqoh dengan suatu shadaqoh yang ia
rahasiakan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa-apa yang telah
dishadaqohkan oleh tangan kanannya”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya
(629), Muslim dalam Shohih-nya (1032)]
Sungguh agung dan besar keutamaan
berhadaqah, akan tetapi suatu amalan tidak akan menjadi agung, tanpa
disertai dengan niat yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah
-Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Semoga Allah memudahkan kita untuk bershadaqah baik shadaqah berupa materi, tenaga, pikiran maupun berupa ucapan. Amin…
Sumber :
- Amal yang dibenci dan yang dicintai
Allah: panduan untuk muslimah, Majdi Fathi Sayyid, Nabhani Idris, Gema
Insani, 1998, Hal 92-97
- Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 15
Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus
Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu,
Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan
Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc.
Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh :
Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad
Mulyadi. Untuk berlangganan hubungi alamat di atas. (infaq Rp.
200,-/exp). Link: http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=768 (di ambil dari pengusahamuslim.com)
21.07
Unknown

Posted in: 


0 komentar:
Posting Komentar